Signed books from Raymond here!

Kegilaan-kegilaan Islam: Semua Hanya "Hoax" (Cerita Bohong)?

Anda mendengar sesuatu yang sangat merisaukan berkenaan dengan dunia Islam – katakanlah, bahwa beberapa Muslim berupaya untuk melegalkan perbudakan sex atau menghancurkan piramida-piramida Mesir atau mengijinkan misi bunuh diri sodomi atau menyalib kaum kafir. Batin anda – yang berteriak, "Katakan padaku ini cuma lelucon!" – merasa sulit untuk menerima berita-berita seperti itu. Kemudian, di suatu tempat dari dalam perut internet, rasa legapun datang. Banyak munculnya kata "hoax" yang disambut baik itu, meneguhkan kembali pandangan dunia anda. Semuanya kembali baik-baik saja. Tapi benarkah begitu? Apakah laporan-laporan tersebut adalah cerita bohong belaka? Atau apakah ini hanyalah sebuah strategi lain dari mereka yang meminta maaf akan kegilaan-kegilaan Islam – sebuah strategi yang secara khusus bersandar pada fakta bahwa pola pikir Barat bagaimanapun tidak dapat memahami berita-berita semacam itu, dan dengan demikian semuanya terlalu rela menerima tuduhan hoax tanpa berpikir dua kali? Ingatlah kembali berita tentang para anggota parlemen Salafi di Mesir mendesakkan sebuah undang-undang yang melegalkan necrophilia (berhubungan sex dengan mayat). Informasi ini pertama kali muncul di surat kabar paling beredar luas di Mesir, Al Ahram, diikuti oleh Al Arabiya. Berita itu beredar cepat, yang menyebabkan Barat cemas. Tapi kemudian sebuah artikel kecil di Christian Science Monitor berjudul "Undang-undang Necrophilia Mesir? Wooey Mengatakan Wooey" mencoba mengembalikan kita pada keadaan semula. Penulisnya, Dan Murphy, memperingatkan banyak website yang menyebarluaskan cerita necrophilia itu: "Jangan percaya segala yang kamu baca di internet, nak. Paling tidak sampai ada semacam, kalian tahulah, sedikit bukti". Dan "bukti" darinya bahwa itu adalah cerita bohong? Tidak ada! Dia bahkan menegaskan bahwa "Beberapa tahun lalu ada seorang ulama Maroko yang kelihatannya mengeluarkan sebuah peraturan keagamaan yang mengatakan bahwa para suami tetap menikah dengan istri mereka pada enam jam pertama setelah kematiannya dan, dengan demikian, kalian tahu (yakni, dia mengijinkan necrophilia). Tapi pria itu sudah jauh, amat jauh di tepi kegilaan." Selain dari nada ketidakmatangan Murphy – "jadi, apa kalian tahu?" – seseorang gagal untuk melihat bagaimana menggambarkan seorang ulama sebagai orang "gila" berarti bahwa peraturan keagamaannya adalah "cerita bohong" – yang tidak pernah ada? Demikian juga ketika sampai pada fatwa-fatwa. Tak soal dari bangsa mana mereka menyeru, sehingga warga Mesir dapat dengan mudah menjunjung tinggi fatwa dari orang Maroko, atau sebaliknya, karena dalam Islam tidak ada pembedaan kebangsaan, yang ada hanya ummah (umat). Namun demikian, tidak masalah betapapun dangkal dan kurang bukti, tuduhan hoax (cerita bohong) itu menggema dengan baik, hanya karena arus utama mentalitas Barat secara naluriah menolak, dalam hal ini, gagasan mengenai mengkodifikasi necrophilia. Sebagian besar hal ini diperburuk oleh fakta bahwa kebanyakan orang Barat, termasuk para reporter, tidak dapat secara mandiri memeriksa cerita-cerita semacam itu, karena cerita-cerita itu biasanya berasal dari bahasa-bahasa Timur Tengah. Yang mengarahkan saya kepada keakraban saya dengan masalah ini: saya memperoleh sebagian besar berita-berita saya langsung dari media berbahasa Arab – karena mengetahui bahwa lebih baik memperoleh informasi secara langsung dari sumbernya dari pada memperolehnya dari media Barat yang terbatas dan disaring. Oleh karena itu, saya sering pertama yang mengungkap cerita-cerita yang tidak dilaporkan di Barat – contohnya, fakta bahwa kedutaan Amerika Serikat di Kairo diancam berhari-hari sebelum film Muhammad menjadi alasan yang cocok untuk melakukan kerusuhan dan untuk menghancurkan (alasan sebenarnya adalah untuk memaksa Amerika Serikat agar membebaskan Syeikh Buta dan yang lain-lainnya). Meskipun demikian, mereka yang lebih suka cerita-cerita semacam ini tetap ditindas, telah belajar untuk meneriakkan “hoax” – karena mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa kebanyakan orang Amerika tidak dapat membaca huruf Arab atau memeriksa laporan-laporan itu sendiri. Dengan demikian, ketika saya mendokumentasikan fakta yang tak dapat dibantah bahwa beberapa kaum Islamis menyeru penghancuran piramida-piramida Mesir, New York Times dan Huffington Post meneriakkan “hoax”; ketika saya menjelaskan sebuah “fatwa sodomi” yang tersembunyi yang membantu menerangkan peran “niat” dalam Islam, kaum Muslim dan yang lain-lainnya berteriak hoax, termasuk dengan berbohong dan memutarbalikkan fakta; dan ketika saya melaporkan mengenai bagaimana para pendukung “Ikhwanul Muslimun” menyalib para penentangnya, National Post dan yang lain-lainnya berteriak hoax. Namun demikian, tak satupun dari para penyangkal ini menawarkan bukti yang berarti. Malah mereka membelok pada fakta bahwa sejak awal memang benar-benar terlalu sulit untuk mempercayai cerita-cerita ini. Jadi apa yang seharusnya dilakukan oleh para pembaca Barat yang objektif – yang terjebak di tengah-tengah, tidak membaca huruf Arab, juga tidak dapat secara mandiri memeriksa apa-apa – ketika dihadapkan dengan berita-berita tak masuk akal dari dunia Islam? Bersamaan dengan mengevaluasi bukti sebaik yang mereka bisa, saya menyarankan mereka untuk mencari benang merah. Faktanya adalah, anekdot-anekdot aneh yang berasal dari dunia Islam tidak ada akhirnya. Pemegang otoritas Islam tertinggi Saudi Arabia sampai dia meninggal tahun 1999, Sheikh Bin Baaz – nyaris bukan seseorang yang ditolak sebagai “jauh, amat jauh di tepi kegilaan” – bersikeras bahwa bumi itu datar dan bahwa bukti-bukti ilmiah adalah sebuah persekongkolan Barat. Pada tahun 2007, pemegang otoritas Islam tertinggi kedua Mesir, Sheikh Ali Gomaa – mufti agung “moderat” yang sama yang menganggap semua orang Kristen kafir – menetapkan bahwa meminum air kencing Muhammad adalah sebuah berkah yang luar biasa. Begitu juga beberapa minggu yang lalu di Mesir terungkap bahwa sekarang ada sebuah klinik yang menyembuhkan orang-orang dengan memberi mereka air kencing unta agar diminum – karena Muhammad pernah menganjurkannya. Lalu ada fatwa-fatwa mengenai menyusui yang terkenal buruk itu: Beberapa ulama Islam – termasuk Dr. Izzat Attiya, dari universitas Al Azhar Mesir – menganjurkan para pekerja Muslimah untuk “menyusui” rekan-rekan kerja mereka yang pria agar bisa berada di dalam perusahaan satu sama lain (para ulama yang lebih “moderat” mengatakan bahwa para pria tidak perlu meminum susu langsung dari puting tapi boleh menggunakan cangkir). Daftar ini bisa berlanjut terus: Beberapa Muslim, termasuk mereka yang terkemuka, menyerukan dilembagakannya kembali perbudakan sex, dimana wanita-wanita kafir dapat dibeli dan dijual di pasar-pasar. Salah seorang politisi wanita Kuwait bahkan merekomendasikan bahwa wanita-wanita Rusia yang ditangkap ketika perang Chechnya dijual sebagai budak-budak sex di pasar-pasar Muslim. Ulama-ulama terkemuka yang lain bersikeras bahwa Islam mengijinkan kaum laki-laki untuk menikahi bayi-bayi perempuan yang masih ada di ayunan, berhubungan sex dengan mereka begitu anak-anak ini “sanggup ditempatkan di bawah dan sanggup menahan berat badan si laki-laki.” Bagaimana seseorang dapat menjelaskan ajaran-ajaran keji dan tak masuk akal ini – ajaran-ajaran yang dianjurkan bukan oleh para radikalis maupun ulama yang “jauh, amat jauh di tepi kegilaan” – tapi sering oleh para pemegang otoritas tertingginya sendiri? Sederhana: yuresprudensi Islam (fiqih) yang bertanggung jawab mendefinisikan apa yang benar dan salah, pada dasarnya berdasarkan pada kata-kata dari seorang Arab abad ke-7 yang kaum Muslim dimuliakan sebagai seorang nabi. Dan laki-laki ini mengatakan dan melakukan banyak hal yang melanggar kepekaan jaman modern ini. Sebenarnya, dia mengatakan dan melakukan banyak hal yang melanggar kepekaan orang-orang sejamannya – seperti telanjang dan berbaring dengan mayat wanita, yang cukup mengejutkan para penggali kubur (yang secara tidak sengaja dikutip oleh fatwa-fatwa necrophilia). Begitu pula, nabi juga yang pertama kali memerintahkan seorang wanita untuk menyusui seorang pria agar bisa berada di perusahaan si pria itu. Inilah kemudian aturannya: Ketika tiba untuk menentukan apakah sebuah cerita dari dunia Muslim hoax atau bukan, pertama tentukan apakah cerita itu Islami atau tidak – apakah hal itu punya dukungan doktrinal atau sejarah atau tidak; apakah hal itu punya sedikit dukungan dalam Al Quran dan/atau hadits. Seperti yang terjadi, menghancurkan piramida dan peninggalan-peninggalan kuno sebelum Islam adalah sangat Islami dengan satu jejak kertas yang panjang. Terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang seperti sodomi atau bunuh diri atau berbohong dalam rangka memberdayakan Islam adalah sah menurut gagasan Islam mengenai “niat”; menyalib para penentang Islam disuruh dalam Al Quran – seperti halnya perbudakan sex dan pedofilia; meminum air kencing – apakah air kencing unta atau Muhammad – dipuji dalam hadits. Pendeknya, test sebenarnya apakah sebuah cerita yang berkaitan dengan Islam hoax atau bukan, bukanlah apakah ia sesuai dengan akal sehat kita, melainkan apakah ia sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, yang kebanyakan aneh kalau tidak benar-benar ganjil bagi standar-standar Barat.

Raymond Ibrahim

Please share your thoughts on this article on X

Click here

Share this article:

The Return of Al Qaeda and Jihad

FrontPage Magazine

With the ousting of Muhammad Morsi and the Muslim Brotherhood in Egypt, al-Qaeda has been vindicated and the terror-jihad exonerated, in the opinion of many Islamists, that is.

According to the Associated Press, in a new video, al-Qaeda leader Ayman Zawahiri “said the military coup that ousted Egyptian President Mohammed Morsi provides proof that Islamic rule cannot be established through democracy and urged the Islamist leader’s followers to abandon the ballot box in favor of armed resistance [i.e., jihad].”

In fact, in the Arabic video, Zawahiri gloats over two points that he has championed for decades despite widespread opposition: that the Brotherhood was foolish to engage in democracy and elections in the first place, and that the triumph of Islam can only be achieved through jihad.

Interestingly, these two points go back to a long but internal debate between nonviolent Islamists, like the Muslim Brotherhood, and violent jihadis, like al-Qaeda. While both groups pursue the same exact goals—a Sharia-ruling caliphate followed by the subjugation of the “infidel” world, according to Islamic teachings—they follow different strategies. The Brotherhood has long argued that, because the Islamic world is militarily weaker than the West, now is not the time for an all-out jihad, but rather a time for infiltration and subversion, a time for taqiyya and short-lived promises. Conversely, jihadis generally disavow pretense and diplomacy, opting for jihad alone.

Since the 1960s in Egypt, Ayman Zawahiri was an outspoken proponent of jihad (see “Ayman Zawahiri and Egypt: A Trip Through Time for a brief biography). In the early 1990s, he wrote an entire book titled Al Hissad Al Murr, or “The Bitter Harvest,” where he argued that the Brotherhood “takes advantage of the Muslim youths’ fervor by bringing them into the fold only to store them in a refrigerator. Then, they steer their onetime passionate, Islamic zeal for jihad to conferences and elections…. And not only have the Brothers been idle from fulfilling their duty of fighting to the death, but they have gone as far as to describe the infidel governments as legitimate, and have joined ranks with them in the ignorant style of governing, that is, democracies, elections, and parliaments.”

Even so, after the terror strikes of 9/11, many became critical of al-Qaeda, whose actions were seen as setting back the Islamist agenda by creating more scrutiny and awareness in the West. The attacks further set off the U.S. invasion of Afghanistan and gave many Arab governments—including former President Mubarak’s—free reign to suppress all Islamists. As Montasser al-Zayyat, Zawahiri’s biographer, wrote:

The poorly conceived decision to launch the attacks of September 11 created many victims of a war of which they did not choose to be a part…. Bin Laden and Zawahiri’s behavior was met with a lot of criticism from many Islamists in Egypt and abroad…. In the post-September 11 world, no countries can afford to be accused of harboring the enemies of the United States. No one ever imagined that a Western European country would extradite Islamists who live on its lands. Before that, Islamists had always thought that arriving in a European city and applying for political asylum was enough to acquire permanent resident status. After September 11, 2001, everything changed…. Even the Muslim Brotherhood was affected by the American campaign, which targeted everything Islamic.

If the West “targeted everything Islamic,” that was obviously short lived; for, from a different perspective, the post 9/11 world has proven to be the heyday of the Muslim Brotherhood. For starters, many Islamists began to see the wisdom of the Muslim Brotherhood’s strategy of publicly renouncing violence (jihad) and appropriating Western language and paradigms in an effort to infiltrate and subvert.

And it certainly worked: the Brotherhood got what they wanted; their strategy of opting for elections and renouncing jihad, coupled with a highly sympathetic Obama administration, culminated with the Brotherhood leaving Egypt’s prisons and filling the highest posts of government, beginning with the presidency.

However, now that the Brotherhood and Morsi have been ousted, the jihadis—chief among them Zawahiri, leader of al-Qaeda—are in full “we told you so” mode, renewing the argument that Islamic Sharia can never be established through infidel democracy, but rather only through jihad, long recognized as the only way to force people—including Muslims themselves—to comply with Allah’s rule on earth. And it’s becoming harder for nonviolent Islamists to argue otherwise, especially the now disgraced Brotherhood.

Thus, among an increasing number of Islamists, al-Qaeda’s strategy—jihad and terror—has been justified and may well return in full force. Indeed, it’s in this context that one must understand recent news that the U.S. “ordered the unprecedented closure of embassies in 19 countries across the Middle East and Africa,” a decision sparked by Ayman Zawahiri’s recent communiques.

No doubt Western apologists will now argue that it’s in the West’s interest to support and make concessions to the Muslim Brotherhood, since the alternative will be a renewal in jihadi terror. However, aside from the fact that such an argument is tantamount to submitting to blackmail—or that the resumption of jihad is just another reminder that al-Qaeda and the Brotherhood are two faces of the same coin—is it not better to get the ugly truth out in the open now, while the U.S. still has some power and influence, rather than later, when it will likely be even more infiltrated and handicapped?

Raymond Ibrahim

Please share your thoughts on this article on X

Click here

Share this article: